Langsung ke konten utama

Inside of My 20 y.o

Semakin bertambah usia semakin bertambah juga masalah yg datang,
Entah itu dari pekerjaan, kuliah, keluarga, teman, atau bahkan dari orang asing yg bahkan baru dikenal 3 menit yg lalu.
Wajar, masalah memang akan selalu hadir dalam kehidupan semua orang. Saya bukan orang spesial yg punya masalah itu seorang diri. I mean, semua orang juga merasakan hal yang sama, bukan hanya saya sendiri saja.

Selain itu, pertemanan juga semakin sempit. Banyak teman-teman yg kini semakin sibuk dengan urusannya masing-masing. Saya pribadi pun juga sama, hampir tidak ada waktu luang untuk pergi dengan teman, jangankan teman, dengan keluarga sendiri saja hanya bertemu sekali dalam seminggu.

Setelah semua hal itu, saya juga merasakan bahwa semakin saya bertambah usia, ternyata saya harus bisa menentukan hubungan pertemanan seperti apa yg harus saya pilih.
Yg toxic kah? Atau yg full of support.
It's so important. But why? Bcs not just me who can feel the effect.  Bukan hanya saya saja yg merasakan dampaknya, tapi mereka pun juga. Dalam hal ini mereka yg saya maksud adalah teman saya dan orang-orang yg berhubungan dengan saya.

Pertemanan yg mulai menyempit dan orang-orang baru yg hadir juga mengaharuskan saya untuk menentukan bagaimana saya membentuk citra diri saya.
Saya akan bertemu orang baru yg lebih banyak lagi, dan disaat itulah kepribadian saya akan benar-benar dinilai dari sudut pandang orang ketiga. Mereka orang baru yg benar-benar baru saya kenal, akan menilai diri saya secara subyektif.
Saya tidak tahu apakah orang tersebut akan memiliki waktu lebih untuk bisa mengenal diri saya lebih jauh. Artinya, disini saya harus  memperlihatkan kepada mereka bahwa saya adalah seseorang yg positif. Satu-satunya cara untuk bisa menjadi orang yang positive adalah menjadi orang yang jujur. Semakin tua seseorang, semakin banyak relasi dan hal yang menjadi pegangan terkuat adalah kejujuran. Itu menurut saya.
Karena sekali lagi, saya tidak tahu apakah mereka punya cukup waktu untuk mengenal lebih jauh tentang diri saya.
Karena disaat mereka telah menilai saya sebagai orang yg memiliki negative vibes, dan kemudian kita tidak akan bertemu dalam waktu yg lama, atau mungkin tidak akan bertemu sama sekali, penilaian buruk itu akan tetap melekat pada diri saya.
I can't accept it at all.
Karena sebenarnya saya bukan orang yang seburuk yg mereka nilai.
But they're not false. Mereka hanya tidak punya cukup waktu untuk mengenal saya dan misunderstanding.
Hanya saja setelah saya mencoba menjadi pribadi yg paling baik yg pernah saya lakukan pun terkadang orang lain masih menganggap bahwa saya masih kurang cukup baik. Ok that's fine. Masih normal, karena penilaian orang lain memang tidak selalu sejalan dengan kehendak kita.

Mungkin ada yang membantah,
"Alah ya tergantung kamunya aja, kalo kamu baik, orang lain pasti juga baik kok"
Not as simple as that dude.
Orang lain akan terus meminta kebaikan. Tidak akan pernah berhenti. Sedangkan kita sebagai manusia tidak akan mungkin bisa selalu memuaskan keinginan mereka. Disamping itu tdak semua orang punya pemikiran yang sama.
Ada yang merasa biasa saja saat mereka menerima kebaikan orang lain karena mereka berpendirian bahwa manusia memang sudah seharusnya untuk berperilaku baik kepada sesama. Ada pula yang merasa sangat bersyukur karena mereka merasa bahwa sangat sulit bertemu dengan orang yang mau membantu orang lain dengan cuma-cuma. Begitupun sebaliknya, ada juga yang justru menganggap kebaikan orang lain sebagai kesempatan untuk bersikap semau mereka.

That's life. Itulah mengapa dalam hidup, kita bisa saja kehilangan orang yg ada dalam lingkup pertemanan kita. People come and go. Setiap individu akan memfilter manakah orang-orang yg memberikan manfaat dan mana yg tidak. So is that called friend for benefits? No. It hasn't always been this way.
Tergantung bagaimana kita menyikapinya.
You have to remember, that everyone has their own business. Setiap orang punya kepentingan pribadi.
Ini hal yang baru saja saya pelajari haha. Sebelumnya saya selalu merasa itu hal yang aneh. Tapi sekarang saya mencoba untuk bisa menerima.
"Jadi, kamu terima kalo teman kamu ambil keuntungan dari diri kamu?"
Maybe yes, as long as they can do something worth to given me back. Pertemanan yang baik itu adalah saat semua orang yang ada dilingkup pertemanan itu saling melengkapi. Sama-sama merasakan nyaman. Dan tidak ada yang merasa terbebani.
Apakah saya terlihat perhitungan? Kikir? Ok Koreksi sekali lagi, apakah jika kamu berada diposisi dimana kamu merasa dirugikan oleh salah satu teman mu secara berkelanjutan, kamu bisa menerima dengan lapang dada?
Terlepas dari sisi agama yang mengharuskan kita untuk tetap sabar, iklhas dan selalu berbuat baik, benarkah kamu bisa menerimanya dengan senang hati?
Saya rasa tidak.
Pertemanan yang sehat adalah saat semuanya mau saling bahu membahu. Tidak ada yg berkorban. Tidak ada yang merasa terbatasi saat berekspresi hanya untuk menjaga 'dia' tetap berada di mood terbaiknya, sedangkan 'dia' sama sekali tidak peduli dengan itu.
Tapi kembali lagi kepada pribadi masing-masing, bahwa saya maupun kalian berhak untuk menyikapi hal itu sesuka hati kita.

Oh iya. Di usia saya yang ke 20 ini, sering sekali saya merasa banyak teman saya yg mulai berubah. Bukan menjadi ninja Hatori. Maksud saya adalah, semua orang pasti akan berubah sesuai dengan tuntutan lingkunganya. Lingkungan dimana mereka beradalah yg memaksa mereka untuk berubah. Tidak apa-apa. Mereka hanya beradaptasi.
Tidak salah. Manusia memang perlu menyesuaikan diri untuk tetap bertahan hidup.

Yang salah adalah saat dimana orang itu berubah tanpa alasan yang jelas. Dan mulai merugikan orang lain disekitarnya. Ini adalah contoh manusia toxic.
Saya sendiri menyadari bahwa saya bukan orang yang sesempurna itu yang berhak menghakimi sifat orang lain. Tapi saya sebagai makhluk sosial berhak untuk mengeluarkan isi hati saya.
That's it :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INI YANG PERTAMA DARI PERTAMA-PERTAMA YANG SEBELUMNYA

Iyaaaa.. iyaaa.. santai aja.. oke ini bukan kalian yang bodoh kok, bukan aku juga yang bodoh *so?* ya ga ada, ga ada yang bodoh.. *alaahapaansih* jadi gini, maksud Tittle yg di atas itu, duluuuu.. duluuuuu banget pas jaman SMP, pas jamannya aku yg masih imut-imutnya absurd alay-nya, sok banget tuh bikin blog, blog-nya ga cuman satu lagi tapi ada banyakkk, iya banyakkkk, mana content-nya Masyaallah banget lagi ahhhh *back to topic* nah makanya itu, karena dulu udah pernah buat beberapa blog dan pasti di setiap blog ku itu ada postingan pertama kan, sekarang aku udah bukan anak SMP lagi, sekarang udah SMA kelas XII lagi, jadi udah ga pantes alay-alay lagi dong yaaa, jadi aku mau postingan ini jadi postingan pertama di blog baru aku yg apa yaaa, istilahnya merubah image gitu-gitu deh, postingan yg bakalan jadi batas antara jaman dulu yg masih labil alay dan jaman sekarang yg *Insyaalah* jauh lebih baik, lebih dewasa jenis video yg ditonton cara mikir-nya dan pastinya jauuhhhh ja...